Kamping ceria situ gunung 20-21
April 13
Sabtu sore sekitar pukul 15.00
WIB telfonku berdering karena ada message yang masuk, ku baca ternyata sms dari
bowo. Ku baca ternyata kita jadi touring ke situ Gunung setelah kemaren seempat
nge gantung. Karena si bowo yang masih kerja hari sabtunya tiba-tiba aja
ngabarin dadakan kaya begini. Tapi ya udah lah, berangkatttt kita . . . .
Karena waktu dikabarin lagi di
rumah sakit nengokin istri temen yang habis melahirkan. Akhirnya sekitar jam
17.30 berangkat deh ke Jakarta dengan agak tergesah-gesah dan ngebut dikit he
he he padahal janjian sama bowo berangkat jam setengah 7 sehabis manghrib. Dan
sepertinya biasanya perjalanan dari bekasi ke Jakarta gak semulus yang
dibayangkan. Sampe di pulo gadung udah kena macet panjang banget, gak nahan dah
pokoknya. Butuh perjuangan ekstra untuk bisa mencapai titik temu sama Bowo dan
Siska diLenteng Agung.Akhirnya jam 21.30 ketemu bowo ma siska di pertigaan
lenteng agung. Dari situ kita menuju kerumah haries temennya bowo, jadi kita
berangkat ke situ gunung berempat aku, Bowo, Siska, dan Haries pake 2 motor.
Tapi sebelum ke rumah haries, kita cari spirtus dulu untuk bahan bakar kompor
kita selama di situ gunung. Sebenernya cari spirtus itu menjadi tanggung
jawabku, karena sebelumnya Bowo udah pesan kepada ku untuk bawa spirtus. Jadi
gak enak ma mereka L,
udah muter-muter dari lenteng agung sampe ke depok masuk bengkel satu per satu
sepanjang jalan selain itu juga mampir ke toko outdoor bahkan apotik pun kita
sambangi berharap ada yang jual spirtus tapi tetep aja hasilnya nihil. Ya udah
dari pada ntar kemaleman kita putuskan untuk jemput haries di rumahnya. Jam
22.30 berangkat dari tempat haries, keluar dari komplek rumah haries kita
sempatkan lagi mampir ke bengkel siapa tau ada yang jual. Dan ternyata bener
aja, akhirnya kami pun bisa bernafas lega karena kami sudah mendapatkan apa
yang kami cari. Setelah semua nya udah lengkap berangkat deh kita ke Sukabumi
dengan semangat yang menggebu-gebu. Dari depok sampe bogor kita lalui dengan
perjalanan santai, tapi setelah melewati jalan raya bogor-sukabumi kita
langsung tancap gas. Aku berpikir treknya alus kayak dari depok ke bogor, tapi
ternyata salah karena baru tancep gas aja motor udah ngehajar lubang membuat
saya dan siska lumayan kaget. Tapi mau gimana lagi haries dengan motor gedenya
langsung meninggalkan kami di belakang, jadi mau gak mau kami harus segera
menyusul mereka. Segera saja langsung kutancap gas, tidak berapa lama kami
sudah berada di belakang motor haries. Karena kita jalan malem jadi kondisi
jalan lumayan sepi, tapi meskipun sepi kami harus tetap waspada karena kami
harus menghindari lubang selain itu kami juga BLANK tentang kontur jalan dari
bogor ke Sukabumi. Ternyata jalanan dari bogor ke sukabumi parah, banyak
lubang, dan aspalnya udah pada ngelupas. Tapi itu tak mengurangi semangat kami
untuk melanjutkan perjalanan. Sekitar jam 01.30 pagi sampailah kita di
pertigaan Cisaat, disitu kami menyempatkan diri untuk mengisi perut terlebih
dahulu. Kita makan di warung nasi uduk,maklum sebelum berangkat perut kita
belum diisi. Setelah makan dan beristirahat sebentar, kami kembali melanjutkan
perjalanan. Menurut info yang kami dapat dari si Bapak tukang nasi uduk
perjalanan dari cisaat ke situ Gunung sekitar 30 menit lagi. Sekitar jam 02.30
pagi sampailah di situ gunung park, parkir motor, jalan sebentar ke camping
ground situ gunung. Kami langsung buka tenda, buat minum hangat dan tidak
berapa lama langsung masuk tenda untuk beristirahat dan eksplor situ gunung
esok paginya.
Sekitar jam 08.00 pagi aku bangun
dan langsung buka logistik, nyalain kompor trus masak air buat bikin kopi dan
mie instan untuk sarapan. aku gak sendiri untuk urusan memasak sarapan pagi
itu, tak berapa lama siska terbangun dan membantu saya untuk meyiapkan sarapan.
Pagi hari dari dalam tenda
Ditengah keasyikan kami memasak sambil mengobrol tiba-tiba ada petugas datang menyapa dan menghampiri kami. Ternyata si bapak petugas ini meminta uang registrasi untuk buka tenda di camping ground tersebut. Disitu kami kaget bukan maen, karena harga yang di berikan pada kami adalah harga per orang yaitu sekitar Rp 26.500 / orang nya. Namun kami tidak menerima mentah-mentah begitu saja karena bagi kami harga segitu terlalu mahal. Akhirnya setelah melewati proses negosiasi, kami hanya mendapat harga hanya untuk 2 orang saja sekitar Rp 53.000. Lumayan mahal kan hanya beberapa jam aja disitu. setelah sarapan sekitar jam 09.30 pagi kami packing untuk selanjutnya eksplor danau situ gunung. Setelah semua beres dan masuk semua kedalam tas carier, langsung kita menuju pelataran parkir. Namun sebelum meninggalkan camping ground area kami sempatkan untuk foto berempat untuk dokumentasi. [foto]
Dari pelataran parkir, kita
panasi dulu motor kita masing-masing lalu tak berapa lama kita langsung
berangkat menuju danau situ gunung. Butuh waktu sekitar 10 menit untuk menuju
pelataran parkir danau situ gunung. Tak berapa lama kami berjalan keindahan
danau situ gunung pun mulai terlihat. Betapa indah dan tenangnya danau ini,
tepat berada di bawah kaki gunung Gede-Pangrango dan di apit oleh perbukitan
yang berdiri dengan gagahnya menambah keindahan mata kita memandangi
pemandangan di danau ini. Selain tenang dan sepi, kesejukan udara di danau ini
membuat kami betah berlama-lama disini.
Danau Situ Gunung
Foto sana dan sini,
bernarsis-narsis ria mencoba menikmati keindahan alam yang telah Tuhan
ciptakan. sedang asyik menikmati keindahan danau situ gunung pandanganku
berpaling pada souvenir-souvenir yang di jajakan di pinggir danau tersebut.
Kuhampiri untuk sekedar melihat-lihat, lalu yang lain pun menyusul. Mulai
kupilih satu-persatu kerajinan tangan yang dibuat oleh kang Gunawan, orang
Jakarta asli yang menikahi gadis desa situ dan menetap disitu. Aku memilih
ukiran dari kulit pohon damar yang sudah tua. Untuk selanjutnya ku ukir nama
“Neng Azizah” ya begitu lah tulisannya.
Cuma Gaya
Kenapa harus neng Azizah???aku
pun gak tau tiba-tiba refleks kepikiran sama gadis yang satu ini untuk
diberikan kepadanya sebagai oleh-oleh J
selain buat neng azizah aku juga membeli kerajinan masih dari kulit pohon damar
namun berbentuk muka seorang suku pedalaman yang menurutku bentuk nya unik dan
cocok untuk di pajang di dinding kamar. Masih mencoba untuk menawar pada kang
Gunawan untuk mendapatkan harga yang pas untuk 2 item handycraft ini. Dapatlah
kesepekatan harga yaitu Rp 25.000 untuk 2 item yang berbeda ini. Harga yang pas
untuk sebuah handycraft seperti ini. Kemudian tak lama pesanan ku pun segera
dikerjakan oleh kang Gunawan. Tak butuh waktu lama untuk kang Gunawan mengukir
nama yang sudah aku pesan. Sekitar 15 menit ukiran nama dari kulit pohon Damar
pun selesai. Lama kami mengobrol dengan kang Gunawan, sharing tentang
pengalaman hidupnya dan awal mula ia menekuni pekerjaan ini. Setelah berbicara
panjang lebar kesana-kemari kami memutuskan untuk kembali ke pelataran parkir
utama namun sebelumnya kita semua pergi kami sempatkan dulu untuk berfoto
dengan kang Gunawan.
Bersama kang Gunawan
Ki-ka : kang Gunawan, Siska, saya, Bowo, dan Harries
Setelah itu kami menuju pelataran
parkir, di perjalanan kami menemui ular kecil ga tau ular apa namanya dan
spontan si Bowo langsung mencoba untuk menangkap ular tersebut bersama dengan
haries. Karena aku gak mau jadi korban keisengan dari mereka berdua, aku pun jalan
duluan menuju pelataran parkir bersama dengan siska yang juga takut dengan
ular. Sekitar jam12.30 siang kami balik lagi ke parkiran utama untuk menuju ke
curug sawer. Baru berjalan sekitar 5 menit cuaca mulai tidak bersahabat,
gerimis kecil dan lama-lama hujan deras pun turun membasahi kami berempat. Kami
memutuskan untuk balik lagi, karena bila di lanjutkan tidak memungkinkan. Jarak
tempuh menuju curug sawer sekitar 1 jam. Kami pun berteduh di warung yang ada
di pelataran parkir, pesen teh anget untuk menghangatkan badan yang basah
akibat kehujanan. Sambil menunggu hujan reda kami kembali melihat foto-foto
kami sambil makan cemilan yang kami bawa. Setelah hujan reda, kami memutuskan
untuk pulang. Namun tak begitu lama dari gerbang situ gunung bowo berhenti
sebentar untuk mengajak kami ke curug sawer namun lewat jalur berbeda. Aku
hanya mengiyakan ajakan tersebut, rugi juga donk jauh-jauh dari jakarta Cuma
eksplor danau situ gunung. Tak berapa lama sampai lah kita di parkiran nya,
namun ternyata bowo mengajak kami untuk mengendarai sepeda motor untuk menuju
ke lokasi curug sawer meskipun tarifnya agak sedikit mahal dibandingkan kita
memarkirkan motor kita lalu jalan kaki ke lokasi.
Ternyata oh ternyata treknya
lumayan ekstrim juga, jalan setapak yang kontur jalannya masih berupa tanah dan
dipinggirnya merupakan jurang serta jalannya juga licin karena abis diguyur
hujan. Harus ekstra hati-hati untuk melewati trek ini. Tapi kami coba menikmati
moment-moment ini, namun tidak dengan siska yang kelihatan dari mimik mukanya
yang ketakutan he he he.
Sekitar setengah jam kami sampai
pada ujung jalan yang sudah tak bisa dilewati dengan motor, jadi kami harus
berjalan kaki untuk menuju curug sawer. Tak berapa lama kami berjalan mulai
terdengar suara gemuruh air terjun tersebut. Sampailah kita di curug sawer,
karena hari itu habis hujan jadi debit air nya deras sekali. Tak berapa lama
kami mencoba untuk menikmati keindahan ini,lepas baju dan celana panjang hanya
meyisakan celana kolor saja he he he.
Jembatan bambu sebelum curug sawer
Curug Sawer
Yang tadinya semangat jadi mulai
ragu ketika kita mendekatkan diri kita ke kolam yang ada di air terjun karena
hawa dinginnya menusuk tulang kami. Tapi aku sendiri mencoba untuk memberanikan
diri untuk sekedar merasakan airnya. Hanya menyelam sekali untuk membasahi
badan, setelah itu ya udah balik lagi ke tempat semula, gak tahan nahan
dinginnya brrrr . . .
Tapi mendingan lah udah berani
nyebur dari pada bowo dan haries yang cuma nampangin badan yang gak sixpack
trus jadi modelnya deh deket air terjun ha ha ha. Begitu juga dengan siska,
siska hanya menikmati nya dari kejauhan hanya menjadi juru foto kami doank.
Puas menikmati curug sawer kami
pun bergegas pulang karena cuaca sudah mulai tidak bersahabat, petir saling
bersahutan dan langit pun mulai gelap. Sebelum memulai kembali perjalanan ke
parkiran utama, kami bersantap gorengan dulu untuk sekedar mengganjal perut.
Baru deh kita jalan turun dengan jalur yang sama kita lewati tadi.
Trek ke Curug Sawer via Cinumpang.
Sampai di pelataran parkir utama
jam 16.30, kami langsung tancap gas pulang ke jakarta. Namun sampe atas saya
berhenti sebentar karena tadi saya melihat sesuatu yang unik dan membuat saya
penasaran. Saya memutuskan kembali ke bawah untuk melihat-lihat, ternyata
sesuatu yang unik itu adalah kerajinan tangan Tas yang bahannya adalah karung
Goni. Sang pemilik biasa menyebutnya dengan sebutan tas Goni karena terbuat dari
karung Goni. Cukup lama saya dan siska
melihat-lihat kerajinan yang di buat oleh pak Iwan, bentuk tas goni nya
bermacam-macam mulai dari tas selempang dan tas gendong bahkan saya juga
melihat rompi dari karung Goni. Ini merupakan karya seni yang patut di acungi
jempol karena bahan yang di gunakan adalah limbah, mulai dari karung Goni dan
accesories yang menghiasinya. Saking asyiknya memilih dan melihat karya pak
Iwan, telfonku berdering karena bowo menelfonku mungkin khawatir juga mereka
dengan kami. Akhirnya mereka kami suruh untuk kembali lagi ke pelataran parkir.
Tak berapa lama bowo sudah sampai di tempat kami berada, kembali lagi aku
meimilih mana yang akan aku beli. Karena disini semuanya membuatku tertarik.
Akhirnya aku memilih satu, tas gendong yang di belakang nya di beri hiasan kain
loreng seperti tentara. Pertama pak Iwan menawarkan harga nya kepada saya
seharga Rp 150.000, seteah saya coba untuk menawar akhirnya mentok di harga Rp
75.000. dan perlu kalian ketahui ternyata pak Iwan ini sudah sering ikut acara
pameran-pemeran untuk mempromosikan hasil karyanya. Biasanya dia mengikuti
pameran di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Denpasar dan Jogja.
Bahkan karyanya tersebut sudah menjadi ikon untuk kota Sukabumi. Setelah puas
melihat-lihat, kami pamit pulang pada pak Iwan.
Tas Goni
Di perjalanan pulang kami mampir
di warung nasi prasmanan pinggir jalan untuk mengisi perut yang belum ketemu
nasi seharian. Kami masuk, ambil piring, ambil nasi,dan ambil lauknya sendiri.
Makan lah kami semua dengan lahapnya, entah karena emang laper atau emang
menunya yang enak. Banyak sekali menu yang di tawarkan di warung nasi pinggir
jalan ini, mulai dari jengkol, pete, tahu tempe, ayam, ati, ikan dan masih
banyak menu lainnya. Setelah selesai makan kami bayar makanan kami. Saya kaget
mendengar harga yang disebutkan oleh si ibu pemilik warung, masak nasi+pepes
ikan mas Rp 30.000 aje gileeee. Bila di total semua makanan kami seharga Rp
97.000 dan dirata-rata per orang nya kena Rp 25.000 *udah di bulatkan.
Harga yang fantastis untuk
sekelas warung nasi pinggir jalan, kaget bukan main tapi mau gimana lagi orang
udah nyampe perut juga masak mau di keluarin lagi kan gak lucu. Kami bayar
dengan mimik muka yang masih tidak percaya, tapi tak apa lah sebagai pengalaman
juga. Tapi untuk kalian para backpacker menurut saya tempat ini tidak
recomended untuk kalian. Mending makan di Restoran cepat saji sekalian dah
kayak **fc kalo gak M***D. Yang udah jels kelihatan hargany berapa.
Sekitar habis maghrib kami
melanjutkan perjalanan menuju kota Jakarta, sore itu gerimis jalan licin dan musti
berhati-hati. Hingga tiba- tiba kami di salip oleh rombongan club motor, tak
ingin meyia-nyiakan kesempatan kami pun berada di tengah-tengah mereka sehingga
laju motor kami bisa dikatakan lancar. Mengapa demikian?karena jika club motor
touring dia ada team pembuka jalan dan sweaper yang menjaga barisannya di
posisi belakang. Kita tau lah gimana kalo club motor udah dijalanan. Cukup lama
kami menjadi benalu di rombongan club motor ini hingga akhirnya kami terpisah
karena rombongan club motor ini mampir untuk istirahat di SPBU.
Sampai lah kami di kota Bogor,
waktu menunjukkan sekitar pukul 20.30 WIB. Kami mampir sebentar ke SPBU untuk buang air
kecil dan istirahat sebentar. Setelah itu kami melanjutkan kembali perjalanan.
Sekitar jam 21.15 kita udah sampe di lenteng agung kediaman nya haries. Namun
sebelum sampe di kediaman rumah haries ada cerita seru yang mewarnai perjalanan
kami dari Bogor hingga Depok. Di jalan saya dan bowo kebetulan kami sang
Ojekersnya kejar-kejaran dengan motor ber CC tinggi. Awalnya hanya bowo yang
melakukan hal tersebut, namun saya di belakangnya harus tetap bisa di belakang
Bowo alhasil kami bertiga pun saling salip-menyalip satu sama lain yang
mengakibatkan boncengers nya Siska merasa parno dengan aksi yang kami lakukan.
Demi keyamanan bersama aku pun memutuskan untuk tidak mengikuti cara main si
Bowo yang naek motornya udah kayak setan. Karena kita juga awam dengan rute
dari Bogor sampe Depok kami sempat kesasar sampai pada akhirnya menemukan rute
yang sama yang kami lewati kemrin. Terpaut 10 menit kedatangan kami dengan
kedatangan Bowo.
Sampai dirumah haries kita
istirahat sejenak, ngopi sambil share foto yang ada di kamera nya haries.
Jam 22.00 kami balik dari tempat
haries, aku mampir ke tempat sodaraku untuk sekedar numpang tidur sedangkan
mereka berdua balik ke rumah masing-masing karena domisili mereka di Jakarta.
Paginya aku bangun dan kaget
setelah melihat ternyata pelek belakang ku udah penyok L emang bener dah trek nya
sukabumi bener-bener ancur dan banyak lobang. Tapi pada umumnya hal-hal seperti
itulah yang menjadikan kenangan dalam setiap perjalanan. Kunikmati perjalanan
itu dengan penuh suka cita dan kebersamaan dengan yang lain.
Selesai.


Situ Gintung yg beberapa waktu lalu ambrol kan?
ReplyDeleteWah, kok mahal banget ya, makanannya.
Tp lucu, ternyata ada patung di deket air terjun ya? Hehehe
wahahah, itu mah di Tangerang, ini situ gunung, Sukabumi brohh :)
Deleteitu kan patung selamat datangnya :-p
itu touring ?
ReplyDeleteiya ssa, Trip Dadakan dan gak ada persiapan sama sekali :)
Deleteuntungnya dapet banyak bonus disana, kata orang-orang danau ini adalah ranu kumbolonya Sukabumi. mungkin kalo cuacanya cerah bakalan OK kali fotonya :)
Untuk pintu masuknya ga ada batesan waktu ya? Bisa dateng jam brp aja?
ReplyDeleteJadi biaya ngecamp nya bisa nego?