![]() |
| suasana dalam kapal dari harapan -kali adem |
Okey, apa yang kalian pikirkan ketika melihat gambar diatas. Sekilas mungkin akan terlihat
tidak ada yang istimewa dari gambar tersebut. Gambar ini saya ambil di dalam
perahu kayu dari pulau harapan menuju dermaga kali adem. Bagi sebagian yang
sudah sering ke pulau seribu, pemandangan seperti ini akan biasa. Tapi kalo
kita mau kaji lebih jauh, hmm miris rasanya.
Apatisme yang terjadi di sekitar kita, kurangnya rasa kepedulian dan
berbagi. Itulah yang setidaknya saya rasakan dalam perjalanan pulang dari pulau
harapan ke kali adem siang itu. Kalo kita amati foto tersebut, ada kursi kosong
yang tersedia disana. Namun tetap saja masih ada yang lesehan dibawah. Eitsss,
jangan kira ini sebuah settingan yang di dramatisir sedemikian rupa. Ini real
terjadi, dan itu saya alami sendiri, dalam foto tersebut teman saya yang duduk
lesehan dibawah. Ini merupakan sebagian kecil bentuk apatisme yang terjadi di
sekitar kita. Dan saya harap cukup ini saja dan mungkin saya saja yang
merasakan.
Kalau kita mau flashback lagi ke belakang, masih ingat dengan kasus “Dinda”
yang mencurahkan keluh kesahnya di jejaring sosial path karena tidak memberikan
kursinya kepada ibu hamil di KRL. Beritanya pun heboh di sosial media, menjadi
trending topic, bahkan diliput oleh media nasional. Hmm, itu merupakan salah
satu segelintir contoh sikap apatisme yang sudah menjangkiti masyarakat urban
khususnya di Jakarta. Saya tidak mau membahas kasus ini secara mendalam. Hanya saja
dari kasus ini saya pribadi bisa menilai rasa peduli dan berbagi serta
bertoleransi dikalangan kaum muda mulai terkikis terlepas dari kekurangan dan
kelebihan dari apa yang dilakukan “Dinda”. Miris !!!
Siang itu begitu terik, matahari berada tepat diatas kepala kita semua saat
itu. Waktu tempuh sekitar kurang lebih 4 jam untuk menuju pelabuhan kali adem
Jakarta dari pulau harapan. 4 jam bukan waktu yang sebentar untuk berada
didalam kapal kayu yang terasa sekali goncangannya ketika kapal melintasi
ombak. Ada kalanya cuaca bersahabat, namun ada kalanya cuaca tidak bersahabat.
Bahkan waktu tempuh bisa sampai 5 jam jika cuaca di jalan sedang tidak
bersahabat. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya di dalam kapal tersebut J.
Dikarenakan saya saat itu dengan beberapa teman, diantaranya adalah
perempuan, maka saya inisiatif untuk mencari tempat duduk kosong di dalam.
ketika saya masuk, masih ada beberapa tempat duduk yang kosong didalam,
prosentasenya 15 % lah dari total tempat duduk yang ada. tapi apa daya, tempat
duduk yang kosong tersebut ternyata sudah di “pesan”. Yap, saya menulisnya
demikian. Setiap saya tanya, “mas kosong ya??”, jawabannya pun klasik “ada
orangnya mas, lagi ke belakang”. Paling kalo tidak ya ditandai dengan menaruh
tas/bawaan mereka dengan dalih kursi tersebut bertuan. Ahh sudahlah terima saja
pikir saya dalam hati.
Pertama memang saya pribadi masih berpikir positif akan keadaan tersebut. Terlebih
saya menganut budaya “gak enakan”, yahh budaya timur yang kental sekali pada
diri saya. Okey saya terima, saya pun cari tempat duduk diluar dengan segala
resiko yang ada. ya anggap saja resiko, resiko naik perahu terlambat, resiko
ngeyel “udah tau main ke pulau high season pasti rame”, yo wis dinikmati aja.
Hingga akhirnya ada petugas dari dishub yang
menertibkan penumpang yang diluar demi keamanan dan kenyamanan bersama. Ketika
itu petugas masuk untuk cek sendiri keadaan didalam, petugas bilang “didalem
masih ada yang kosong, masuk-masuk”. oke kita masuk lah terutama yang
perempuan-perempuan itu. Tapi nihil, lagi-lagi jawaban yang sama kami dapatkan.
Kita keluar lagi donk karena gak dapet tempat didalem. Tak berapa lama petugas
datang lagi sambil terheran-heran “kenapa masih banyak yang diluar” mungkin
kata dia dalam hati. Saya sudah mulai gontok disini “gak ada pak, kalo mau itu
yang kosong-kosong ditanyain pak”. lalu kita masuk dengan petugas dishub tadi,
barulah setelah petugas tadi menertibkan tempat duduknya alhamdulillah
teman-teman saya ini khususnya yang perempuan dapat tempat duduk. Dan saya
sendiri ditunjukkan kursi kosong dibelakang, “dibelakang mas itu kosong”,
sambil petugas tersebut menunjuk kursi.
Sesampainya disana, tetep aja jawabannya sama
“udah ada orangnya mas” kalo gak “orangnya lagi ke toilet”. Daripada
bolak-balik ya udah saya dan teman akhirnya lesehan aja dibawah sambil
bersyukur masih ada tempat untuk duduk di dalem meskipun lesehan. Tak berselang
lama kapal mulai meninggalkan dermaga pulau harapan menuju dermaga kali adem. Namun
dalam perjalanan, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran saya. Ada
pertanyaan besar? Sepengamatan saya selama perjalanan kursi-kursi pesanan tadi
kenapa masih kosong? Masak iya ke toilet ngantri lama banget, apa jangan-jangan
ketinggalan kapal. Tapi ya sudahlah pertanyaan itu berlalu begitu saja dihempas
oleh angin laut dan goncangan akibat ombak dilautan *tsaahhh, meloo dikit*, toh
kita berdua sudah terlalu nyaman duduk lesehan. Dan tak habis pikir dengan
kejadian yang saya alami. Begitu tidak pedulinya mereka, begitu acuhnya mereka,
demi kepentingan mereka pribadi dalam hal ini demi mendapatkan tempat duduk
yang lebih lega biar pules boci (bobo ciang)nya bersama sang ayang tercinta.
| padahal masih ada beberapa bangku kosong,karena faktor "gak enak " tadi. |
Tentu dengan menuliskan kejadian ini, saya tidak bermaksud untuk menjadi
hakim bagi mereka. Tulisan ini pure untuk sharing pengalama, tidak lebih. Sharing is caring bukan. Perihal
tanggapan pembaca bagaimana itu pilihan mereka, biarkan mereka yang menilai.
Dari sini saya juga belajar, bahwasannya traveling itu tidak hanya
senang-senang, selfie/wefie semata, tempat – tempat yang indah. Lebih dari itu,
traveling juga harusnya bisa menjadi sarana introspeksi diri dan mengenali jati
diri kita lebih dalam.
so, prepare your daypack, let’s travel . . .

No comments:
Post a Comment
Feel free to ask, comment, or critic :)