17 April 2016

Apatisme di sekitar kita!!! *edisi trip ke pulau seribu

suasana dalam kapal dari harapan -kali adem

Okey, apa yang kalian pikirkan ketika melihat gambar diatas. Sekilas mungkin akan terlihat tidak ada yang istimewa dari gambar tersebut. Gambar ini saya ambil di dalam perahu kayu dari pulau harapan menuju dermaga kali adem. Bagi sebagian yang sudah sering ke pulau seribu, pemandangan seperti ini akan biasa. Tapi kalo kita mau kaji lebih jauh, hmm miris rasanya.

Apatisme yang terjadi di sekitar kita, kurangnya rasa kepedulian dan berbagi. Itulah yang setidaknya saya rasakan dalam perjalanan pulang dari pulau harapan ke kali adem siang itu. Kalo kita amati foto tersebut, ada kursi kosong yang tersedia disana. Namun tetap saja masih ada yang lesehan dibawah. Eitsss, jangan kira ini sebuah settingan yang di dramatisir sedemikian rupa. Ini real terjadi, dan itu saya alami sendiri, dalam foto tersebut teman saya yang duduk lesehan dibawah. Ini merupakan sebagian kecil bentuk apatisme yang terjadi di sekitar kita. Dan saya harap cukup ini saja dan mungkin saya saja yang merasakan.

Kalau kita mau flashback lagi ke belakang, masih ingat dengan kasus “Dinda” yang mencurahkan keluh kesahnya di jejaring sosial path karena tidak memberikan kursinya kepada ibu hamil di KRL. Beritanya pun heboh di sosial media, menjadi trending topic, bahkan diliput oleh media nasional. Hmm, itu merupakan salah satu segelintir contoh sikap apatisme yang sudah menjangkiti masyarakat urban khususnya di Jakarta. Saya tidak mau membahas kasus ini secara mendalam. Hanya saja dari kasus ini saya pribadi bisa menilai rasa peduli dan berbagi serta bertoleransi dikalangan kaum muda mulai terkikis terlepas dari kekurangan dan kelebihan dari apa yang dilakukan “Dinda”. Miris  !!!

Siang itu begitu terik, matahari berada tepat diatas kepala kita semua saat itu. Waktu tempuh sekitar kurang lebih 4 jam untuk menuju pelabuhan kali adem Jakarta dari pulau harapan. 4 jam bukan waktu yang sebentar untuk berada didalam kapal kayu yang terasa sekali goncangannya ketika kapal melintasi ombak. Ada kalanya cuaca bersahabat, namun ada kalanya cuaca tidak bersahabat. Bahkan waktu tempuh bisa sampai 5 jam jika cuaca di jalan sedang tidak bersahabat. Bisa dibayangkan bagaimana rasanya di dalam kapal tersebut J.

Dikarenakan saya saat itu dengan beberapa teman, diantaranya adalah perempuan, maka saya inisiatif untuk mencari tempat duduk kosong di dalam. ketika saya masuk, masih ada beberapa tempat duduk yang kosong didalam, prosentasenya 15 % lah dari total tempat duduk yang ada. tapi apa daya, tempat duduk yang kosong tersebut ternyata sudah di “pesan”. Yap, saya menulisnya demikian. Setiap saya tanya, “mas kosong ya??”, jawabannya pun klasik “ada orangnya mas, lagi ke belakang”. Paling kalo tidak ya ditandai dengan menaruh tas/bawaan mereka dengan dalih kursi tersebut bertuan. Ahh sudahlah terima saja pikir saya dalam hati.

Pertama memang saya pribadi masih berpikir positif akan keadaan tersebut. Terlebih saya menganut budaya “gak enakan”, yahh budaya timur yang kental sekali pada diri saya. Okey saya terima, saya pun cari tempat duduk diluar dengan segala resiko yang ada. ya anggap saja resiko, resiko naik perahu terlambat, resiko ngeyel “udah tau main ke pulau high season pasti rame”, yo wis dinikmati aja.

Hingga akhirnya ada petugas dari dishub yang menertibkan penumpang yang diluar demi keamanan dan kenyamanan bersama. Ketika itu petugas masuk untuk cek sendiri keadaan didalam, petugas bilang “didalem masih ada yang kosong, masuk-masuk”. oke kita masuk lah terutama yang perempuan-perempuan itu. Tapi nihil, lagi-lagi jawaban yang sama kami dapatkan. Kita keluar lagi donk karena gak dapet tempat didalem. Tak berapa lama petugas datang lagi sambil terheran-heran “kenapa masih banyak yang diluar” mungkin kata dia dalam hati. Saya sudah mulai gontok disini “gak ada pak, kalo mau itu yang kosong-kosong ditanyain pak”. lalu kita masuk dengan petugas dishub tadi, barulah setelah petugas tadi menertibkan tempat duduknya alhamdulillah teman-teman saya ini khususnya yang perempuan dapat tempat duduk. Dan saya sendiri ditunjukkan kursi kosong dibelakang, “dibelakang mas itu kosong”, sambil petugas tersebut menunjuk kursi.

Sesampainya disana, tetep aja jawabannya sama “udah ada orangnya mas” kalo gak “orangnya lagi ke toilet”. Daripada bolak-balik ya udah saya dan teman akhirnya lesehan aja dibawah sambil bersyukur masih ada tempat untuk duduk di dalem meskipun lesehan. Tak berselang lama kapal mulai meninggalkan dermaga pulau harapan menuju dermaga kali adem. Namun dalam perjalanan, ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran saya. Ada pertanyaan besar? Sepengamatan saya selama perjalanan kursi-kursi pesanan tadi kenapa masih kosong? Masak iya ke toilet ngantri lama banget, apa jangan-jangan ketinggalan kapal. Tapi ya sudahlah pertanyaan itu berlalu begitu saja dihempas oleh angin laut dan goncangan akibat ombak dilautan *tsaahhh, meloo dikit*, toh kita berdua sudah terlalu nyaman duduk lesehan. Dan tak habis pikir dengan kejadian yang saya alami. Begitu tidak pedulinya mereka, begitu acuhnya mereka, demi kepentingan mereka pribadi dalam hal ini demi mendapatkan tempat duduk yang lebih lega biar pules boci (bobo ciang)nya bersama sang ayang tercinta.

padahal masih ada beberapa bangku kosong,karena faktor "gak enak " tadi.
Tentu dengan menuliskan kejadian ini, saya tidak bermaksud untuk menjadi hakim bagi mereka. Tulisan ini pure untuk sharing pengalama, tidak lebih. Sharing is caring bukan. Perihal tanggapan pembaca bagaimana itu pilihan mereka, biarkan mereka yang menilai. Dari sini saya juga belajar, bahwasannya traveling itu tidak hanya senang-senang, selfie/wefie semata, tempat – tempat yang indah. Lebih dari itu, traveling juga harusnya bisa menjadi sarana introspeksi diri dan mengenali jati diri kita lebih dalam.


so, prepare your daypack, let’s travel . . .

No comments:

Post a Comment

Feel free to ask, comment, or critic :)