Rezeki anak soleh
emang gak kemana? “Selalu ada jalan bagi hambanya yang berusaha”,”selalu ada
hikmah dalam setiap kejadian yang kita lalui”, mungkin kata-kata tersebut cocok
untuk menggambarkan apa yang gw alami. Yap gw mengalami fase dimana gw
merasakan nikmat Tuhan yang diberikan kepada hambanya yang selalu berusaha dan
selalu berfikir positif terhadap apa yang sudah digariskan oleh Tuhan. “Jadi,
nikmat mana lagi yang kau dustakan”, kali ini gw akan ceritain pengalaman suka
dan duka gw waktu jalan ke pulau Perak bareng temen sekelas gw yaitu Diska,
Sadewo, Habibie, dan Kiky alias B-Genk (anak bawang). Begini nih ceritanya,
Pagi-pagi buta
(baca : jam4 pagi) gw udah ngacir ke dermaga muara angke dari kediaman mas
Rahman di Rawa Mangun. Yap malam itu gw bermalam dikediaman beliau (mas
Rahman), hal ini dikarenakan pada malam harinya gw musti pinjem peralatan
lenongnya (tenda, matras, dll)) mas Rahman. Trip kali ini bisa dikatakan
mendadak karena terjadi miss komunikasi sama si Dewo, singkat cerita gw belom
menyiapkan semua peralatan yang diperlukan untuk berkemah di pulau Perak,
kepulauan seribu, sehingga gw harus keliling untuk cari pinjeman peralatan
lenong.
Tepat jam 5 pagi gw
udah tiba di dermaga muara angke dengan segala hiruk pikuknya, namun pagi itu
gw rasakan hal yang berbeda dari biasanya. Biasanya gw kalo kesana pas weekend, dermaga ini sudah ramai dengan
turis lokal maupun mancanegara yang ingin berlibur ke kepulauan seribu. Tapi
karena gw dan temen-temen perginya pas weekdays,
jadi suasananya pagi itu agak berbeda, pagi itu gw lihat Cuma ada beberapa
kapal ojek yang sandar dan beberapa turis lalu lalang namun tidak begitu ramai,
dan tidak semrawut seperti pas weekend.
Disana gw nyantai
dulu sambil ngopi, sembari menunggu kedatangan temen-temen gw pada ngumpul
untuk selanjutnya berlayar ke pulau harapan. pagi itu, tidak ada pikiran jelek
dalam pikiran gw, gw hanya membayangkan keseruan-keseruan yang bakalan terjadi
selama perjalanan ini. Karena kita bakalan buka tenda dipulau yang hanya dihuni
oleh penjaga pulau, dan dalam benak gw, kita bakalan ngerasain nuansa “private island” yang sebenarnya. Cuma
ada kita dan penjaga pulaunya aja.
Tak terasa senja
pagi itu mulai terik menyinari hiruk pikuknya dermaga muara angke. Tapi
temen-temen gw belum pada dateng juga. satu per satu kapal ojek tujuan
kepulauan seribu mulai meninggalkan dermaga dan menyisakan satu kapal tujuan
pulau harapan, dan itu kapal yang akan kita tumpangi. Perlahan pikiran gw mulai
goyah ketika gw tau mereka terlambat berangkat 1 jam dari jadwal yang
seharusnya. Dan imbasnya pagi itu kita ketinggalan kapal ojek yang menuju pulau
harapan karena mereka (Dewo, Habibie, Dyska, dan Kiky) baru nyampe di dermaga
muara angke jam 8 pagi sedangkan kapalnya berangkat setengah jam sebelumnya.
Tapi gw masih tetap
tenang dengan keadaan itu. Karena kita masih ada 2 opsi yang bisa kita gunakan
untuk menuju pulau harapan. pertama pake kapal pemerintah dari kali adem, dan
yang kedua kita ikut kapal selanjutnya jam 10 atau jam 2 siang. Kalaupun 2 opsi
itu gak membantu, mungkin gw dan temen-temen gw belum diijinkan untuk liburan
bareng. Akhirnya kita jalan kaki ke dermaga kali adem untuk menggunakan jasa
kapal pemerintah dari kali adem. “anda kurang beruntung, harap coba lagi”, gw
hanya bisa berkata demikian dalam hati. Kita keabisan tiket di kali adem dan
kapal yang berangkat hari itu Cuma 1 kali doank.
Oh iya, sebelumnya
gw ada tips nih buat kalian yang ingin ke dermaga kali adem dari muara angke.
Mendingan kalian jalan kaki untuk menuju dermaga kali adem, karena jarak antara
muara angke dan kali adem sebenernya gak jauh kok. Cuma 10-15 menit kalian
jalan kaki udah nyampe dermaga kali adem, kalian bisa jalan kaki lewat “pusat
jajanan serba ikan”, tinggal lurus aja dari situ. Jika kalian kebingungan
kalian bisa tanya warga sekitar.
kenapa gw
merekomendasikan jalan kaki daripada naik ojek, karena jika kalian naik ojek
kalian akan “digetok” dengan harga 10 rb/orang. Kalo menurut gw sih untuk jarak
segitu bisa dibilang mahal, bukannya gw menghambat rejeki si tukang ojek ya,
tapi harga segitu gak wajar cuy. Kalo menurut kalian wajar-wajar aja sih gak
masalah dan mungkin juga kalian punya niatan untuk bantu tukang ojek tersebut
juga gak masalah. Gw Cuma ngasih rekomendasi aja sih supaya kalian lebih tau
dan bisa menyesuaikan budget kalian.
Dengan keadaan
tersebut, kita belum nyerah, kita balik lagi ke angke untuk cari info kapal
yang berangkat jam 10 ata jam 2 siang. Dan lagi-lagi hasilnya nihil. Hmm, waktu
itu kita Cuma bisa pasrah deh pokoknya. Masak iya kita gak jadi sieh, ibaratnya
pepatah nih ya “pulang malu, gak pulang
juga malu”. Lah iya lah kalo pulang kita malu, udah pamit pengen liburan
masak gak jadi, gak pulang pun kita malu masak ya mau nginep 1 malem diangke
terus besoknya berangkat gitu.
Berawal dari sini
nih, rejeki anak soleh itu datang. Mungkin ini jalan lain yang sudah digariskan
oleh Tuhan buat kita, mungkin ini juga buah dari ketidakputusasaan kita, atau
mungkin ini hanya sebuah keberuntungan semata. Ahh, hanya Tuhanlah yang tahu,
kita sebagai hambanya Cuma bisa menikmati apa yang telah Tuhan berikan. Dan
menurut gw ini lah yang disebut “selalu ada hikmah positif dalam setiap kejadian
yang kita lalui” ini lah jalan lain yang diberikan Tuhan itu,
1. Dapat tumpangan kapal Nelayan
Kita kebetulan saat
itu ngobrol sama mas Azis (tau bener apa gak, lupa), mas Azis ini bertugas
untuk menampung/membeli ikan hasil tangkapan nelayan. Saat itu, kami
direkomendasikan untuk menumpang kapal nelayan pulau kelapa 2, hingga akhirnya
kami bertemu dengan bang Ardi, bang Armon, Dani, dan Pak Haji Kanda (kapten
kapal) yang biasa dipanggil pak Haji. Setelah bernegosiasi dengan ABK nya, kita
dijinkan untuk menumpang kapal tersebut ke pulau kelapa 2. Namun tentunya semua
itu tidak gratis begitu saja. kami akan sangat iba jika kami sudah menumpang
tapi tidak ada “feedback” nya dari
kami. Kami mematok harga 50 ribu/orang, hal ini kami lakukan sebagai bentuk terima kasih, karena
sudah membantu dengan memberi tumpangan kepada kami sehingga kami tetap
berangkat hari itu juga.
2. Dapet ikan Bawal murah meriah.
Rejeki kedua kami
yaitu, kami bisa membeli ikan bawal yang masih segar (dari nelayan langsung)
dengan harga yang murah. 50 rb kita bisa dapet kurang lebih 2 kg ikan Bawal
segar dari nelayan yang baru pulang melaut. Nah loh, kok bisa? Yap, kalo kita
yang beli mungkin gak boleh, tapi kalo yang beli sesama nelayan bisa lain
ceritanya dan kalo beruntung mungkin tinggal ambil aja alias gratiss alias free. Biasalah solidaritas antar nelayan
brohh. Itu namanya rejeki broh, rejeki anak soleh.
3. Dapet tumpangan nginep 1 malem gratis.
Rejeki
yang lainnya lagi adalah dapet tumpangan nginep 1 malem gratis di pulau kelapa
2. Hari itu kita berangkat dari muara angke jam 1 siang dengan menempuh 5 jam
perjalanan ke pulau kelapa 2 yang bersebrangan dengan pulau kelapa dan juga
pulau harapan. Kita tiba di dipulau kelapa 2 jam 5 sore, karena gw waktu itu
mabok laut tapi belom sampe jackpot yak.
gw minta sama temen-temen gw untuk melanjutkan perjalanan ke pulau perak besok pagi sekalian snorkling. Udah gak
tahan naek kapal gw waktu itu, 5 jam terombang-ambing dilautan dan masih harus
jalan lagi ke perak, aduhh gak kuat deh gw. Awalnya mereka kekeuh pengen
langsung lanjut ke perak, tapi gw coba untuk yakinin mereka dengan
alasan-alasan yang bisa menguatkan mereka untuk bermalam dipulau kelapa 2. Kami
bermalam dirumah pak Haji Kanda waktu itu, keluarga pak Haji sangat ramah
kepada kami.
4. Dapet sodara baru
Masih adalagi nih
rejeki anak soleh, kita akhirnya dapet sodara baru di pulau kelapa 2, pak Haji
Kanda yang sudah mau menampung kita 1 malam dirumahnya, bang Armon yang
membantu dan menemani kami selama disana (pulau kelapa 2), pak Tibe yang sudah
mengantar kami snorkling dan keliling pulau disekitar pulau harapan, bang Ardi,
bang Dani, bang Ipank yang mau menjadi guide kita. Ahh, gw merasakan sebuah
keluarga yang besar disini, di pulau kelapa 2 yang mayoritas penduduknya
merupakan keturunan bugis, mereka begitu hangat kepada kami. Kami bisa
merasakan yang namanya kue bugis yang cocok sekali jika dihidangkan dengan teh
manis hangat, kue cumi, dan juga nasi uduk pulau kelapa 2 yang rasa gurihnya
gak kalah dengan buatan orang sunda, itu menurut gw, gak penting juga buat gw
siapa yang buat tapi yang pasti gurih-gurih nyoyy cuy nasi uduknya.
Dan masih banyak
lagi rejeki yang lainnya mulai dari pemandangan bawah laut pulau kayu angin
yang mempesona, bisa berenang bersama Nemo dan ini pengalaman pertama gw bisa
melihat Nemo secara langsung, dan yang pasti kebersamaan bersama teman-temen gw
ini. Yap kita gak akan pernah tahu apa yang direncanakan Tuhan buat kita,
jangan pernah berpikir Tuhan tidak adil ketika kita tidak bisa mendapatkan yang
kita inginkan atau ketika kita gagal dalam suatu hal. Percayalah Tuhan itu tau
mana yang terbaik untuk hambanya. Dan Tuhan tidak akan mengubah takdir
seseorang melainkan dirinya sendiri lah yang harus berusaha untuk mengubahnya. So,
prepare your backpack n lets traveling :)

No comments:
Post a Comment
Feel free to ask, comment, or critic :)